Review Bleach TYBW: Kembalinya Raja Shonen yang Gahar

Review Bleach TYBW: Kembalinya Raja Shonen yang Gahar

Review Bleach TYBW Dunia anime pernah memiliki masa kejayaan yang disebut era “The Big Three”, di mana Naruto, One Piece, dan Bleach mendominasi percakapan global. Namun, berbeda dengan dua saudaranya, Bleach mengalami nasib yang cukup tragis: animenya dihentikan secara mendadak pada tahun 2012, menyisakan arc terakhir manganya yang belum teradaptasi. Selama satu dekade, para penggemar hidup dalam ketidakpastian dan harapan kosong.

Namun, penantian 10 tahun itu akhirnya terbayar lunas—bahkan dengan bunga yang melimpah. Bleach: Thousand-Year Blood War (TYBW) hadir bukan sekadar sebagai pelanjut cerita, melainkan sebagai sebuah pernyataan dominasi. Studio Pierrot, yang sering dikritik di masa lalu, seolah mengerahkan seluruh sumber daya terbaiknya untuk proyek ini. Hasilnya adalah sebuah tontonan visual yang memukau, narasi yang lebih gelap, dan eksekusi yang berhasil menghapus dosa masa lalu. Bleach tidak hanya kembali; ia berevolusi menjadi monster yang menakutkan di kancah anime modern.

Evolusi Visual: Sinematografi Kelas Layar Lebar

Hal pertama yang langsung menyita perhatian sejak detik pertama episode perdana adalah perubahan drastis pada art style dan animasi. Lupakan visual standar anime mingguan tahun 2000-an yang datar. Bleach TYBW tampil dengan estetika yang sangat stylish, menggunakan pencahayaan kontras tinggi (chiaroscuro), komposisi warna yang berani, dan garis karakter yang tajam.

Sutradara Tomohisa Taguchi membawa pendekatan sinematik yang segar. Penggunaan efek CGI untuk teknik Bankai atau serangan Quincy (seperti Blut Vene) terintegrasi dengan sangat halus, tidak terasa kaku. Salah satu momen puncak visual tentu saja pertarungan antara Genryusai Yamamoto melawan Yhwach. Api Zanka no Tachi digambarkan dengan detail yang mengerikan namun indah, membuat penonton benar-benar merasakan panas dan keputusasaan di layar. Pierrot membuktikan bahwa ketika diberikan waktu dan bujet yang tepat, mereka mampu bersaing dengan studio elit seperti MAPPA atau Ufotable. (berita bola)

Nuansa Kelam dan Tanpa Sensor

Perbedaan paling mencolok lainnya adalah “tone” cerita. Thousand-Year Blood War adalah perang dalam arti yang sesungguhnya. Jika di arc sebelumnya (seperti Arrancar) nuansanya masih terasa seperti petualangan Shonen klasik, kali ini Bleach tidak ragu memperlihatkan brutalitas.

Sensor yang dulu mengekang anime lawasnya kini dilepas. Darah, potongan tubuh, dan kematian karakter diperlihatkan secara eksplisit namun artistik. Hal ini sangat penting karena musuh kali ini, Wandenreich (pasukan Quincy), digambarkan sebagai ancaman eksistensial yang jauh lebih berbahaya daripada Aizen. Kekalahan para Kapten Gotei 13 di invasi pertama terasa sangat impactful karena visual yang mendukung narasi keputusasaan tersebut. Penonton diajak merasakan bahwa Soul Society benar-benar di ambang kehancuran.

Perbaikan Cerita: Sentuhan Langsung Tite Kubo Review Bleach TYBW

Salah satu kritik terbesar terhadap manga Bleach di arc terakhirnya adalah pacing yang terburu-buru dan banyak plot hole karena kesehatan Tite Kubo (sang mangaka) yang menurun saat itu. Namun, di versi anime ini, Kubo terlibat langsung dalam pengawasan produksi.

Hasilnya luar biasa. Anime ini tidak hanya mengadaptasi panel manga, tetapi juga memperluas dan memperbaiki adegan-adegan yang sebelumnya kurang jelas. Penambahan adegan orisinal—seperti kilas balik generasi pertama Gotei 13 atau pertarungan tambahan skuad Zero—memberikan kedalaman cerita yang sangat dibutuhkan. Anime ini terasa sebagai versi “Director’s Cut” atau versi definitif dari visi Kubo yang sebenarnya. Tempo ceritanya cepat, padat, dan tidak bertele-tele (bebas filler), membuat setiap episodenya terasa krusial.

Audio yang Menggelegar: Nostalgia yang Dimodernisasi

Tidak lengkap membahas Bleach tanpa menyinggung musiknya. Komposer legendaris Shiro Sagisu kembali dengan soundtrack yang memadukan orkestra megah, paduan suara gothic, dan elemen rock elektronik. Lagu tema ikonik “Number One” mendapatkan aransemen ulang yang lebih modern, yang ketika diputar di momen kembalinya Ichigo Kurosaki, sukses membuat bulu kuduk berdiri.

Dari segi pengisi suara (seiyuu), Masakazu Morita (Ichigo) dan pengisi suara veteran lainnya masih memberikan performa prima. Namun, sorotan harus diberikan kepada Takayuki Sugo yang mengisi suara Yhwach. Suaranya yang berat dan berwibawa sangat sempurna menggambarkan sosok antagonis utama yang memiliki kekuatan layaknya dewa.

Kesimpulan Review Bleach TYBW

Bleach: Thousand-Year Blood War adalah contoh sempurna bagaimana seharusnya sebuah anime revival dilakukan. Ia tidak hanya mengandalkan nostalgia penggemar lama, tetapi berusaha keras untuk meningkatkan standar kualitasnya sendiri.

Bagi penggemar lama, ini adalah surat cinta dan permintaan maaf atas 10 tahun yang hilang. Bagi penonton baru, ini adalah pengenalan terhadap salah satu dunia Shonen paling stylish yang pernah dibuat. Dengan visual yang memanjakan mata, aksi yang brutal, dan cerita yang diperkaya, Bleach TYBW layak disebut sebagai salah satu anime aksi terbaik dalam dekade ini. Sang Raja Shonen telah kembali ke takhtanya, dan ia terlihat lebih gahar dari sebelumnya.

review anime lainnya ….

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *