Saiyuki Reload Zeroin Bagi penikmat anime yang tumbuh di awal tahun 2000-an, nama Saiyuki membangkitkan memori yang sangat spesifik: biksu bersenjata pistol, siluman kera yang memakai diadem pembatas kekuatan, jip militer yang melaju di gurun, dan kepulan asap rokok yang tak ada habisnya. Ini adalah interpretasi ulang kisah klasik Journey to the West (Perjalanan ke Barat) yang paling “punk rock” dan pemberontak yang pernah dibuat.
Setelah sekian lama absen dan sempat muncul lewat seri Saiyuki Reload Blast pada 2017, franchise legendaris karya Kazuya Minekura ini kembali hadir dengan tajuk Saiyuki Reload: Zeroin. Diproduksi oleh Liden Films, seri ini mengadaptasi salah satu arc manga yang paling dicintai sekaligus paling tragis, yaitu “Even a Worm” arc. Bagi penggemar setia, ini adalah penantian yang terbayar lunas. Namun, bagi penonton awam, ini adalah perjalanan membingungkan namun memikat ke dunia di mana batas antara kebenaran dan kejahatan setipis asap rokok Genjyo Sanzo.
Adaptasi Arc “Even a Worm”: Benturan Ideologi
Penting untuk dicatat bahwa Zeroin bukanlah kelanjutan kronologis dari anime sebelumnya (Blast), melainkan mengisi kekosongan cerita dari manga Saiyuki Reload yang belum sempat teradaptasi dengan baik di masa lalu. Fokus utamanya adalah pertemuan Sanzo Party dengan Hazel Grouse, seorang pendeta/eksorsis dari Barat yang memiliki pandangan hidup bertolak belakang dengan mereka.
Konflik utama dalam Zeroin bukanlah pertarungan fisik semata, melainkan pertarungan filosofis. Genjyo Sanzo, dengan prinsip nihilistiknya yang ikonik (“Jika kau bertemu Buddha, bunuhlah Buddha”), percaya bahwa hidup adalah tentang menanggung beban dosa dan terus berjalan maju di atas kaki sendiri. Sebaliknya, Hazel Grouse memiliki kemampuan—dan obsesi—untuk membangkitkan orang mati demi menciptakan dunia yang “damai” tanpa kesedihan.
Benturan antara “Realitas Kematian yang Pahit” (Sanzo) versus “Ilusi Kehidupan yang Manis” (Hazel) menjadi tulang punggung narasi. Penonton diajak menyelami pertanyaan moral yang berat: Apakah membangkitkan orang mati adalah tindakan belas kasih, atau justru penistaan terhadap siklus kehidupan? Zeroin mengeksplorasi tema ini dengan nuansa melankolis yang kental, ciri khas tulisan Minekura yang sering kali puitis di balik kekasarannya.
Visual Liden Films: Lebih Setia pada Manga
Pergantian studio ke Liden Films membawa perubahan estetika yang signifikan. Jika adaptasi-adaptasi lama sering kali mengubah desain karakter atau menyensor kekerasan, Zeroin berusaha sekuat tenaga untuk setia pada gaya seni (art style) manga Minekura yang tajam dan stylish.
Garis wajah karakter terlihat lebih tegas, penggunaan bayangan lebih dramatis, dan komposisi warnanya cenderung muted (tidak mencolok) untuk mendukung atmosfer cerita yang suram. Desain mata karakter—yang menjadi ciri khas Saiyuki—digambar dengan detail yang memuaskan. Namun, harus diakui bahwa dari segi animasi gerak, Zeroin tidak menawarkan sakuga level dewa seperti Jujutsu Kaisen. Banyak adegan aksi yang diselesaikan dengan teknik still frame (gambar diam) artistik atau potongan cepat. Meskipun ini mungkin mengecewakan bagi pencari aksi fluid, pendekatan ini justru berhasil menangkap estetika panel manga yang statis namun bertenaga.
Kembalinya Kuartet Legendaris Saiyuki Reload Zeroin
Jiwa dari Saiyuki tidak terletak pada plotnya, melainkan pada dinamika karakter utamanya: Genjyo Sanzo, Son Goku, Sha Gojyo, dan Cho Hakkai. Keempatnya kembali dengan segala pesona mereka. Interaksi mereka—mulai dari saling ejek, berebut makanan, hingga saling melindungi nyawa tanpa banyak bicara—adalah chemistry karakter terbaik yang pernah ada di industri anime.
Faktor nostalgia semakin kental berkat kembalinya empat pengisi suara (seiyuu) legendaris yang telah memerankan peran ini selama lebih dari dua dekade: Toshihiko Seki (Sanzo), Soichiro Hoshi (Goku), Hiroaki Hirata (Gojyo), dan Akira Ishida (Hakkai). Suara mereka mungkin terdengar sedikit lebih berat seiring bertambahnya usia, namun itu justru menambah kedalaman karakter yang juga diceritakan semakin lelah dengan perjalanan panjang mereka. Mendengar teriakan “Urusai!” dari Sanzo atau tawa Goku adalah musik bagi telinga para penggemar lama.
Hazel Grouse dan Gato: Antagonis yang Tragis
Sorotan khusus harus diberikan pada karakter Hazel Grouse dan pengawalnya, Gato. Dalam banyak cerita shonen, karakter seperti Hazel mungkin akan digambarkan sebagai penjahat satu dimensi. Namun di Zeroin, ia digambarkan sebagai sosok yang tragis dan kesepian.
Hubungan aneh antara Hazel dan Gato (yang dibangkitkan kembali oleh Hazel) memberikan cermin gelap bagi hubungan Sanzo Party. Jika Sanzo Party diikat oleh kepercayaan, Hazel dan Gato diikat oleh kutukan kebangkitan. Pengungkapan latar belakang Hazel di episode-episode akhir dieksekusi dengan emosional, menegaskan bahwa dalam dunia Saiyuki, tidak ada pahlawan suci atau penjahat murni; yang ada hanya individu yang berusaha bertahan hidup dengan cara mereka masing-masing. (berita olahraga)
Musik yang “Banger”
Lagu pembuka “Kamiymo” yang dibawakan oleh GRANRODEO sukses membangkitkan semangat dengan nuansa rock yang kental, sangat cocok dengan citra badass seri ini. Musik latarnya pun berhasil memadukan instrumen tradisional Asia dengan beat modern, menciptakan latar suara yang pas untuk perjalanan melintasi benua yang dipenuhi siluman.
Kesimpulan Saiyuki Reload Zeroin
Saiyuki Reload: Zeroin mungkin bukan anime yang ramah bagi pendatang baru. Ia tidak menghabiskan waktu untuk menjelaskan siapa karakter-karakternya atau apa tujuan perjalanan mereka (menghentikan kebangkitan Gyumaoh). Ia langsung melempar penonton ke tengah jalan.
Namun, bagi mereka yang pernah atau masih mencintai perjalanan ke Barat versi punk ini, Zeroin adalah sebuah surat cinta yang indah. Ia menutup salah satu lubang narasi terbesar dalam adaptasi anime Saiyuki dengan penuh hormat. Ini adalah pengingat bahwa meskipun zaman berubah dan tren anime berganti, karisma Genjyo Sanzo dan kawan-kawan tidak pernah pudar. “Persiapkan dirimu,” kata Sanzo, dan kita pun siap mengikutinya sampai ke ujung neraka sekalipun.
review anime lainnya ….

